Inilah Alfa Omega sebagai Ruang Bermain dan Belajar bagi Anak-Anak

Sumber Gambar : Dewi Magazine

Sumber Berita : Dewi Magazine

Ada bayangan tegas berbentuk segitiga di atas rumput taman bermain Pusat Kegiatan Belajar Mengajar (PKBM) Alfa Omega. Siang itu taman terasa lapang karena bel penanda istirahat selesai baru saja berbunyi. Para siswa terburu-buru masuk ke dalam kelas masing-masing, baik mereka yang duduk di bangku taman kanak kanak sampai sekolah menengah atas. Ketika lorong-lorong itu mulai sepi, dewi bersama Rendy Riandi, Kepala PKBM Alfa Omega, berkeliling menyusuri tiap ruang yang ada di lahan seluas hampir dua hektar ini.

Menelusurinya, dewi bagai berjalan di sebuah wahana eksplorasi material bambu. Ruang pertama yang dituju ialah sebuah fasad berbentuk bintang. Bentuknya tampak megah, tetapi struktur bambu yang menjadi penopang bangunan membuatnya tetap sederhana. Dindingnya pun terbuat dari anyaman bambu.

“Ini ruang workshop. Sekolah kami hendak membuka program pengajaran baru di antaranya pertukangan, pertanian, peternakan, perkebunan, perikanan, dan keterampilan menjahit agar murid bisa berusaha di ranah mode. Ruang ini juga dipakai untuk keperluan wisuda para siswa. Sebagian dari mereka ada yang melanjutkan kuliah di universitas ternama,” tutur Rendy dengan bangga.

Di gedung segi lima ini pesta kelulusan terasa lebih mengena. “Alfa Omega ialah tempat bagi mereka yang ditolak di sekolah normal. Kami menerima anak-anak yang punya masalah, seperti anak-anak yang pernah terlibat kasus narkoba, dipenjara, broken home, yatim piatu, ataupun mereka yang kurang mampu,” kata Lisa Sanusi, pendiri PKBM Alfa Omega. 

Lisa pernah berada dalam situasi serupa. Sewaktu ia masih anak-anak, ayahnya mengalami kebangkrutan. Mereka sekeluarga harus tinggal di ruang seluas 6×4 meter persegi yang ada di daerah kumuh. “Tidur, mandi, masak kami lakukan di ruang yang sama. Saya berteman dengan anak-anak tukang bangunan dan pedagang kaki lima. Saat SMP dan SMA saya berjuang membayar uang sekolah. Saya selalu mengusahakan untuk bersekolah di tempat yang reputasinya baik. Saat itu saya pun bertekad ingin menjadi orang yang bisa menolong orang lain,” lanjut Lisa.

Doa itu terjawab secara perlahan, tetapi pasti. Setelah lulus kuliah ia belajar membuka usaha. Di waktu yang sama, Lisa rutin turun ke perkampungan kumuh untuk memberi makanan kaum papa. Momen tersebut ia manfaatkan pula untuk berbincang dengan mereka. “Saya melihat hidup anak-anak yang tumbuh dengan kekerasan yang dilakukan orang terdekat.”

Ia makin giat mencari uang agar bisa terus berbagi. Rezeki yang terkumpul digunakan Lisa untuk menyewa ruko di Tangerang dan membuka Pusat Kegiatan Belajar Mengajar Alfa Omega. Ketika ada tambahan rezeki, wanita ini membeli tanah di kawasan Kosambi, Cengkareng, Tangerang, Banten, agar suatu hari bisa diperuntukkan bagi pembangunan sekolah. “Saya ingin menonjolkan emotional quality anak-anak. Memberi keahlian dasar seperti membaca, menulis, berhitung  dan memberi mereka keterampilan supaya bisa menjadi seorang pengusaha,” ujar wanita yang juga seorang ibu ini.

Beberapa bulan sebelum masa sewa ruko sekolah habis, Lisa bertemu Realrich Sjarief, pemilik biro arsitektur RAW. Ia meminta Realrich mendesain arsitek bangunan sekolah di tanah yang telah dibeli di kawasan Kosambi. Syaratnya, sekolah dibangun layaknya sekolah alam. Bagi Realrich dan tim tawaran tersebut ialah bahan pembelajaran tepat.

Awalnya lahan itu berupa rawa dan sawah. Sinar matahari menyorot sangat tajam karena tidak ada pohon-pohon yang menyejukkan di sana. Hanya ada satu bangunan dari besi yang terlihat di sekitar area tersebut. Tidak mudah untuk mencapai lahan dengan luas hektaran itu. Dari jalan raya, kami harus menyeberang kali menuju jalan sempit tak beraspal yang berkelok dan berbatu. Jalan itu diapit beberapa rumah penduduk yang amat sederhana. Di teras sejumlah rumah terdapat bilah-bilah bambu yang tengah dihaluskan oleh pemiliknya. Semakin jauh berjalan, rumah penduduk berganti dengan pemandangan sungai dan sawah. Tanah PKBM tak jauh dari tikungan yang menjadi batas dengan area perumahan warga.

Realrich menyiasati kontur lahan yang kurang solid dengan mendirikan bangunan “melayang” di atas tanah. Melalui bambu ia membentuk jalan masuk yang dramatis. Bilah bambu berpotongan ramping tersusun menjadi anak tangga dan lantai. Rangka atap dibuat dari bambu berbentuk segitiga seperti huruf ‘A’, mengingatkan dewi pada kata Latin alfa yang berarti awal dalam bahasa Indonesia. Foyer membentang begitu panjang dan disertai permainan bayangan segitiga. Menyusurinya terasa kontemplatif lantaran kesan gigantik, sejuk, dan syahdu yang dipancarkan. Foyer ini membuat orang memilih untuk berjalan pelan.

Ujung foyer menghantarkan pada dua bangunan bata bertingkat dan beratap nipah. Di dalamnya ada ruang kelas, ruang berdoa, ruang guru, dan ruang rapat. Dari tempat kami berdiri, terlihat wujud lambang omega, yaitu kata dalam bahasa Latin yang berarti akhir dalam bahasa Indonesia. Lambang omega itu seperti berjajar hingga membentuk gelombang.

Realrich menerapkan bentuk gelombang itu menjadi atap fasad, pembatas selasar, dan tembok ruang belajar mengajar. Ruang-ruang kelas tidak berpintu. Dinding ruang yang bergelombang juga tidak menyentuh plafon. Di dalam sana banyak angin yang masuk walaupun cuaca di luar sungguh terik. Suara guru terdengar jelas jika kita berjalan di samping kelas.

Siang itu salah seorang pengajar kelas 1 sekolah dasar sedang menjelaskan tentang tata krama. Murid diam menyimak. “Para guru harus punya hati. Jika mereka mampu menguasai kelas 15 menit pertama saja sudah memenuhi syarat untuk saya terima di sekolah ini. Tantangan di sini besar. Kami memiliki seorang murid berusia 16 tahun. Dia masih duduk di SMP. Sepanjang hidupnya, anak itu telah dibuang 7 kali dari panti asuhan. Dia punya sifat pemberontak. Saya mencoba merangkulnya dengan kasih dan pengertian. Ini adalah salah satu kasus. Para guru harus mampu menciptakan kondisi kekeluargaan sehingga mental anak-anak mampu terbangun dengan baik dan kuat,” lanjut Lisa.

Dari selasar kelas kami terlihat bangunan bambu yang menjulang di antara dua bangunan bata. Untuk sampai ke sana, kami harus melewati jembatan. Fasad bambu tersebut ialah kantin sekolah. Berbentuk oval dengan pilar-pilar yang membentuk rangka tapal kuda. Memberi kesan kontemporer karena mengingatkan pada desain atap era Gotik, yang kali ini dibuat dengan material lokal dan teknik pertukangan tradisional.  

Pada bagian samping kantin menempel ramp yang mengantar ke lantai dua. “Dari sini kita bisa melihat seluruh area sekolah 360 derajat. Sekolah ini belum seluruhnya selesai,” tutur Rendy sambil menunjuk tanah-tanah milik Lisa yang belum terbangun.

Alfa Omega  ialah tempat Lisa merelaksasi diri. Sekolah baginya ialah tempat bermain anak, “Semakin bebas mereka akan semakin cerdas. Mendekat dengan alam akan mengasah sensorik mereka. Saya harap anak-anak sanggup menghadapi realita dengan skills yang mumpuni.” (JAR) Foto: Shinta Meliza.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

seventeen − 17 =