TANJIDOR EMPAT GENERASI

– BERUMUR 110 TAHUN

Sumber Berita : Belinyu, Bangka Pos

Tepat tahun 1900, sekelompok pemuda Belinyu mendirikan grup musik tiup dan pukul yang belakangan dikenal sebagai Tanjidor. Berawal dari berguru kepada seorang Sinyo Belanda, usai menjalani kursus tahun 1900, debut  anak muda Belinyu mulai unjuk gigi. Sinyo Belanda dan nyonya yang mengajari main musikpun terhibur.

Demikian anggota Komunitas Pencinta Musik Indonesia (KPMI), Liu Jung Kin kepada Grup Bangka Pos berbagi cerita baru baru ini.

Ia menuturkan, saat itu pemimpin tersebut biasa dipanggil Thai Liong. Alat musik yang dipergunakan mirip perangkat orkestra diantaranya bass tiup, bass drum, snar drum, terompet, trombone, clarinet, alto saxophone, sopran saxophone dan terompet pengiring.

“Selang 20 tahun berjalan mereka merekrut generasi baru .Mereka terdiri dari Bi Lu Choi, Nang Cik dan teman-temannya yang berkarya hingga tahun 1950-an,” kenang Jung Kin.

Ia melanjutkan, di generasi ini ada grup harmonika pimpinan Lu Fo Min. Tahun 1953 Lu Fo Min cs membeli alat tiup lainnya.

“Melihat ada generasi baru, Bi Lu Choi berinisiatif merekrut dan bergabung karena personil Tanjidor sudah banyak yang berusia lanjut. Jadilah generasi kedua Tanjidor pimpinan Lu Fo Min,” lanjut Jung Kin seraya mengimbukan tahun 1970-an peniup bass sakit dan hilanglah pemain alat itu karena tidak ada penerus.

Lu Fo Min pun mulai mencari generasi penerus. Putra keduanya Lu Kim Liung cukup berbakat. Tahun 1971 kehadiran Kim Liung dengan saxophone altonya membuat grup ini makin sempurna dalam penampilan.

Tahun 1976 mereka mendapat undangan untuk bermain di Kungit, Teluk Betung, Lampung. Dipimpin Piang Jung, Jaksa Jalik, Buchong dan kawan kawan, mereka berangkat menumpang pesawat Merpati dan mendarat di Talang Betutu, Palembang. Keesokan harinya sampailah mereka di Teluk Betung dalam acara pernikahan seorang anak rantau Belinyu Bong Fuk Cai.

“Konon perantau Belinyu yang ada disekitar Lampung datang menyaksikan Tanjidor ini,’ ungkap Jung Kin.

Lebih lanjut Jung Kin berkisah, tahun 1990  generasi ketiga hadir dengan pembauran beberapa peniup melayu. Pemain pun dirolling saat pemukul bass drum Ngiu Long berpulang. Pada tahun yang sama, seorang darah muda Amina bergabung dengan grup ini sebagai peniup terompet.

Hingga tahun 2010, tinggal Lu Kim Liau dan Achon serta tiga pemain melayu masing masing pada bass drum dan terompet pengiring. Akankah Tanjidor Belinyu bertambah umur? Layakkah mereka masuk dalam deretan panjang MURI? Tentunya dukungan pemerintah daerah sangat diharapkan baik untuk melanggengkan sebuah seni budaya maupun keberadaannya.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

1 × 1 =